Tuesday, 13 November 2012

Mengingat Perjalanan Hidup

Berkumpul bersama anak-anak dan istri, bercerita tentang masa kecil si buah hati, mengingat kembali bagaimana jalan menuju kondisi sekarang..... Sesuatu yang jika diceritakan kembali, akan mirip seperti sebuah skenario film. Ada harapan, ada keinginan, ada khayalan... namun yang nyata adalah kenyataan itu sendiri. Juga ada hal-hal yang bersifat ajaib, andaikan tidak terjadi alur A pasti kondisi tidak akan seperti sekarang.


Bagaimana dulu awalnya saya "bekerja di jalan", pendapatan cuma 700 ribu, berani menikah dan langsung punya anak kembar. Biaya operasi cesar yang 5 juta juga sangat-sangat berat. Memang bisa dapat pinjaman sana-sini, namun tidak punya bayangan bagaimana akah melunasinya.

Membesarkan si kecil sampai umur 4 bulan, tidak ada masalah karena masih terbantu mertua. Sampai akhirnya sang bapak harus meninggalkan keluarga ke ibukota untuk mendapatkan hal-hal yang lebih baik. Bekerja di tempat yang lebih jelas, punya nama besar, bisa dibanggakan. Namun untuk biaya hidup memang pas-pasan. Penghasilan sekian, dikirim ke rumah sekian, biaya kos sekian, biaya transport mudik sekian, sampai hasil akhir saya punya 400 ribu untuk hidup sebulan. Cukupkah? Ternyata dengan siasat tertentu, saya bisa hidup dengan 400.000 rupiah sebulan di Jakarta. Menyedihkan? Hidup di Jakarta tapi tidak bisa menikmati kehidupan Jakarta. Bisa dikatakan seperti itu, namun untuk menaiki anak tangga yang lebih tinggi kita harus menapaki anak tangga bawah sebelumnya.

20 Bulan bertahan di tempat yang sama, akhirnya ada peningkatan ke anak tangga berikutnya. Pindah kerja, kenaikan gaji, ditempatkan di Semarang. Akhirnya hutang cesar bisa langsung dilunasi dalam beberapa bulan, setelah sebelumnya tidak terbayangkan bagaimana melunasinya. Di sini saya dan keluarga mulai bisa menikmati hidup, walaupun masih terpisah, namun jaraknya lebih dekat. Jika sebelumnya Jakarta - Cilacap dan pulang sebulan sekali, sekarang Semarang - Cilacap bisa 2 minggu, bahkan 1 minggku sekali. Namun tetap masih kesedihan, jika pulang mendapati Pondok Mertua Indah yang sudah 45 tahun berdiri mulain bocor sana sini, banyak hewan-hewan yang ikut "tinggal" di dalamnya. Tidak ada bayangan lagi bagaimana memperbaharuinya.

3 Tahun 6 bulan di Semarang, akhirnya kembali ke Jakarta. Kali ini ke Jakarta dengan "modal" yang lebih siap. Ada juga "harapan besar" dengan pemindahan ini. Namun ternyata cuma 2 bulan di Jakarta, saya harus kembali di Semarang. Pada awalnya berpikir, ini akan memutus "harapan besar" tadi. Namun ternyata memang segalanya telah diatur Allah. Kembali ke Semarag adalah agar "harapan besar" itu tercapai. Karena jika masih di Jakarta, "harapan besar" itu benar-benar akan hilang.

Ternyata, cuma sebulan di Semarang, saya dipanggil lagi ke Jakarta, memulai lagi "harapan besar" itu dari awal. Ke Jakarta kembali, dan mulai bisa menikmati kehidupan Jakarta. 6 bulan menikmati hidup, juga mengumpulkan "harapan besar" (yang memang dibatasi cuma 6 bulan saja), akhirnya bisa kembali berkumpul dengan keluarga dengan cara "bali ndesa mbangun desa". Penghasilan turun, namun tidak lagi memikirkan kos, mudik dan yang utama bisa berkumpul dengan keluarga. Dan satu lagi, dengan terkumpulnya "harapan besar", akhirnya bisa menghilangkan bocor rumah, dengan cara "merusak" rumah peninggalan mertua.

Cerita yang terlalu sayang untuk dilupakan


No comments:

Post a Comment